Cerita

HIDUP ITU IBARAT SUPERMARKET

Kisah ini menceritakan tentang percakapan antara seorang anak dengan ibunya.

Sang anak bertanya pada ibunya mengapa kehidupan keluarganya tidak juga kaya meski sudah berusaha dengan maksimal dan rajin juga beribadah.

Sang ibu menjawab semua pertanyaan anaknya dengan tenang dan bijak. Seperti apakah kisahnya? Yuk dibaca sampai tuntas.

Anak : “Ibu, kenapa kita miskin?”

Ibu : “Nak hidup ini seperti orang jalan-jalan di supermarket, oarng boleh memilih dan membawa barang apa saja yang diinginkan,” lebih lanjut Ibunya berkata “siapa yang membawa sepotong kue, maka ia harus membayarnya seharga kue tersebut, demikian juga siapa yang membawa dua atau tiga kue diapun harus membayar sejumlah yang dibawanya.”

“Sementara kita tak mungkin membawa apa-apa, karena kita tidak punya uang. Di pintu kasirpun kita tidak akan diperiksa.”

“Begitu pula kelak di hari kiamat anakku, saat orang-orang kaya antri menjalani pemeriksaan untuk dimintai pertanggungjawaban.”

“Orang-orang kaya akan ditanya tentang: dari mana mereka peroleh harta , bagaimana cara memperolehnya dan untuk apa saja harta kekayaannya.”

“Sedangkan kita dibiarkan terus berjalan, lebih enak bukan?”

“Apakah engkau masih belum menerima keadaan kita, Nak?”

“Duhai anakku jika ditakdirkan menjadi orang miskin, bersabarlah, karena hidup akan dimintai pertanggungjawaban.”

“Berpikirlah positif anakku.”

“Barangkali jika kita kaya kita akan semakin jauh dengan Tuhan. Mungkin juga jika kita kaya kita tidak mudah meraih surga Nya.”

“Tetaplah berprasangka baik kepada Nya, karena kaya dan miskin bukan ukuran mulia atau hinanya seseorang.”

“Mungkin jatah kita masih tersimpan di Surga. Menunggu kita Siap Menerimanya.”

Ingatlah apa yg disampaikan Rasulullah : “sesungguhnya kekayaan itu bukan terletak pada banyaknya Harta benda, tapi pada Hati dan ketenangan Jiwa.”

“Yang Allah nilai bukan Harta kita bukan Jabatan atau pun Rupa dan Paras kita tapi yang Allah nilai dan lihat adalah Hati dan Amalan kita.

Mendengar jawaban dari  Ibu, sang Anak menjadi sangat bersyukur karena memiliki seorang Ibu yang sangat bijak.


Saudaraku, tak semestinya kita mengeluh karena kita miskin.

Karena sesungguhnya “Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu. ALLAH mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui. (QS. Al Baqarah : 216)

Semoga hari ini besok dan seterusnya kita ada dalam lindunganNya.

Aamiin Ya Robbalalamin..

Cerita diambil dari kisah yang disampaikan oleh bapak Budi B dengan beberapa perubahan.

Description: Gambar mungkin berisi: 3 orang, orang berdiri dan teks
sumber dari internet

Buat situs web Anda di WordPress.com
Mulai